Refuges dan NKRI Harga Mati

Kang Jumadi Doel 93~ Semoga pengalaman seseorang dan sekelompok orang diluar sana menjadi pelajaran bagi kita ….

Beberapa saat lalu, berkesempatan berkunjung ke Paris, saya tdk akan bercerita tentang eiffel atau arc de triomphe yg masy hur, saya share foto foto para refuges atau pengungsi.

Cukup kaget sesaat ketika memasuki kota paris (dari airport charles de gaule), banyak sekali tenda tenda di pinggir pinggir jalan, bahkan ketika lampu merah (paris adalah kota dengan traffic light yg sangat banyak), beberapa orang dengan wajah timur tengah meminta minta ke kaca kaca mobil.

Saat saya tanya ke driver yg mengantar saya, dia bilang, iya ini refuges..semakin banyak dan semakin semrawut, namun kita harus membantu mereka, kasihan mereka terusir dari negaranya.

Saya ngga faham, negara yg dimaksud, karena tdk sempat mencoba ngobrol sama mereka, para refugees.

Hingga saat ada waktu jalan jalan di tengah kota paris, beberapa teman masuk ke pertokoan, dimana barang barang branded dijual (kalau ngga salah namanya lafayete..saya lupa, karena ngga sempat masuk), mata saya melihat beberapa refugees dengan wajah timur tengah dan banyak juga yg berkulit hitam.

Mereka ber”aktifitas” berjualan sesuatu secara ilegal (ditengah2 pedestarian), tentu saja ketika ada police patroli mereka langsung lari.

Hanya ada seorang ibu dengan 3 orang anak (2 cowok 1 cewe), yg menggigil dan berselimut bertiga, sedang duduk didepan toko yg tutup, sebuah cup minum kosonh ada didepan mereka, saya lirik ada beberapa koin didalamnya.

Saya coba mendekat, dengan beberapa koin euro kembalian beli air minum dan roti tadi, saya masukkan ke dalam cup minuman tersebut, sang ibu menatap saya dengan senyum yg dipaksakan, mengangguk menandakan ucapan terimakasih ke saya, pun wajah wajah 3 anak mereka juga melakukan hal yg sama.

Saya coba mendekati, ucapan salam Assalamualaikum mendahului, dan saya yakin mereka muslim, benar saja wa alaikumsalam jawab mereka.

Saya ndeprok disamping sang ibu, bertanya, apakah bisa bahasa inggris? Menggeleng, bahasa prancis? Menggeleng, bahasa arab? Mengangguk dan tersenyum.

Saya getun alias menyesal bahasa arab saya jauh dari bagus, namun dgn terbata bata saya coba ajak dia tanya jawab.

“Dari mana asalnya?”
“Syiria”.
“Anak2nya ?” Sambil memandang ketiga wajah lugu dan lusuh disamping ibu.
“Iya” jawabnya sambil tersenyum.
“Suami kemana?”.
“Hilang..makanya kami lari kesini”
“Hilang?”
“Mungkin sudah mati”.

Helaan nafas panjang tidak bisa saya hindari, bayangan saya langsung tertuju ke anak istri saya, yg secara bersamaan sedang berada di belahan lain bumi ini.

Sang ibu tdk berkenan saya ajak foto, jadinya saya “nyuri” foto mereka.

Tak lama seorang teman dr bogor memanggil saya, dan saya ceritakan ke beliau tentang ibu tersebut, dgn initiatif beliau, mulai lah beliau meminta sumbangan ke rombongan kami, yg (maaf) 80% adalah pengusaha pengusaha outlet dr keturunan tionghoa di indonesia. Dan mereka seperti layaknya saya dan teman saya, bersimpati kepada ibu tersebut, bahkan lebih.

Akhirnya sejumlah uang terkumpul, dan sesegera mungkin di berikan kepada sang ibu tersebut.

Hmmm..saya yakin netizen faham tujuan alur cerita saya, Terbukti konflik ideologi di timur tengah korbannya adalah rakyat kecil, seperti ibu tersebut dan anak anaknya, keinginan untuk menguasai negara, sangat terasa hancur leburnya sebuah negara.

Semua diawali oleh Hoax, alias berita bohong, berita yg mengajak utk membenci pemerintah dan kemudian pecah menjadi sebuah pemberontakan.

Akankah netizen mau negara tercinta ini seperti negara negara tersebut? Saat negaranya berperang, rakyatnya Terusir terlunta lunta dinegeri orang.

Saya yakin tidak ada yg mau, mulai sekarang, mari bersama sama melakukan share berita berita optimis, bukan berita berita fitnah seperti yg barusan ditangkap polisi, sembari kita sapa lagi teman teman kita, tetangga tetangga kita.

Momentum Ramadhan seharusnyaa mampu mengembalikan hati hati kita utk lebih adem, tdk gampang fitnah atau malah bangga meng share berita berita ngga jelas.

Semoga Sajadah panjang bermerk NKRI ini, akan tetap sejuk aman dan nyaman sebagai tempat sujud bagi kita dan untuk warisan kepada anak cucu kita kelak.

Allahuma Amin.

Dodik ariyanto

 

Editor Kang Jumadi Doel 93

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *